SES dan Capaian Belajar: Pemodelan Multilevel

Pendahuluan

Pendidikan merupakan sarana dan kanal untuk mencapai keseimbangan sosio-ekonomi yang menjanjikan, dengan demikian kualitas dan pemerataan pendidikan merupakan pilar penting untuk mewujudkan tujuan pengentasan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan (Goldthorpe 2014).

Salah satu studi klasik mengenai kesenjangan dalam pendidikan adalah Coleman Report (Coleman 1966). Coleman Report merupakan salah satu studi yang berpengaruh dan diterbitkan oleh Pemerintah AS pada tahun 1966. Laporan ini didasarkan pada survei mengenai kesempatan untuk memperoleh akses pendidikan yang melibatkan sampel nasional yang mencakup 650.000 siswa dan guru pada lebih dari 3.000 sekolah. Penelitian ini menjadi salah satu studi ilmiah sosial awal tentang pendidikan yang secara khusus untuk mengarahkan kebijakan pemerintah.

Coleman (1966) menyimpulkan bahwa temuan terpenting penelitian tersebut ada dua. Pertama, variasi dalam kualitas sekolah memiliki hubungan yang lemah dengan tingkat pencapaian pendidikan. Perbedaan latar belakang keluarga siswa, sebagai perbandingan, menunjukkan hubungan yang relatif kuat dengan prestasi siswa. Kedua, pencapaian pendidikan siswa tidak hanya terkait dengan latar belakang keluarganya sendiri, tetapi juga dengan latar belakang siswa lain di sekolah.

Laporan ini akan berfokus pada bagaimana status sosial ekonomi siswa merupakan salah satu aspek yang relatif penting dan banyak diteliti untuk memprediksi prestasi belajar. Studi awal yang menggunakan metaanalisis adalah White et al. (1993) yang meneliti hubungan antara SES dan prestasi akademik dan menunjukkan hal itu hubungannya sangat bervariasi tergantung sejumlah faktor seperti jenis SES dan pengukuran prestasi akademik. Selanjutnnya, salah satu studi meta analisis Sirin (2005) menunjukkan bahwa hubungan antara status sosial ekonomi dan prestasi belajar cenderung moderat menuju kuat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa status sosial ekonomi berhubungan dengan prestasi belajar. Dalam konteks Indonesia, memahami hubungan antara kedua variabel ini merupakan insight yang penting, sehingga dapat ditindaklanjuti oleh pengambil kebijakan untuk dapat merumuskan kebijakan yang tepat.

Laporan kajian ini bertujuan untuk menguji sejauh mana faktor status sosial ekonomi dapat memprediksi prestasi akademik.

Metode kajian

Data

Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data AN tahun 2021 dan 2022 dengan menggunakan sampling sebesar 10% dari populasi. Proses pengambilan sampel adalah sebagai berikut. Provinsi dan kota/kabupaten ditetapkan sebagai populasi, dimana semua provinsi dan kota/kabupaten terwakili. Proses selanjutnya adalah memilih sekolah menggunakan teknik stratified random sampling, dengan stratum jenjang pendidikan, dan status sekolah negeri/swasta. Setelah diperoleh sekolah maka semua siswa yang mengikuti pada sekolah tersebut menjadi responden dalam kajian ini. Sebaran siswa pada masing-masing jenjang yaitu SMP sebanyak 170683 siswa, SMA sebanyak 74803 siswa, dan SMK sebanyak 41511 siswa.

Variabel

Variabel yang digunakan dalam kajian ini adalah variabel prestasi belajar yang menggunakan capaian Literasi dan Numerasi. Sedangkan untuk mengukur variabel sosioekonomi, kajian ini menggunakan variabel pendidikan ayah dan ibu, kepemilikan barang dan kepemilikan buku.

Teknik analisis

Proses analisis terdiri tiga tahap. Pertama, mengingat relatif banyaknya missing data maka diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu kajian ini menggunakan multiple imputation dengan membuat 5 dataset terimputasi sebelum digunakan untuk analisis lebih lanjut. Proses imputasi ini menggunakan package mice (van Buuren and Groothuis-Oudshoorn 2011). Kedua, melakukan pemodelan rasch dan PCA untuk membentuk indeks SES dari hasil imputasi. Ketiga, karena secara alami lingkungan siswa dan sekolah membentuk struktur bertingkat atau tersarang, siswa tersarang di sekolah, maka kajian ini menggunakan pendekatan multilevel untuk menguji lebih sensitif tentang bagaimana kondisi kontekstual dapat menjelaskan prestasi belajar siswa (Raudenbush and Bryk 2002). Secara komputasi, pemodelan multilevel dalam kajian ini akan menggunakan package lme4 (Bates et al. 2015).

SD

Literasi

Table 1:

Literasi SD 2021

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 47.69 47.52 – 47.87 <0.001 46.37 46.19 – 46.54 <0.001 33.73 32.54 – 34.92 <0.001
female 4.81 4.70 – 4.92 <0.001 4.84 4.72 – 4.95 <0.001
SES z 0.84 0.78 – 0.91 <0.001 0.88 0.81 – 0.94 <0.001
SES sch z 8.29 7.92 – 8.66 <0.001 6.61 6.20 – 7.02 <0.001
IASP2 16.62 15.10 – 18.15 <0.001
Random Effects
σ2 244.16 237.88 238.16
τ00 103.92 npsn 86.82 npsn 82.40 npsn
ICC 0.30 0.27 0.26
N 14765 npsn 14765 npsn 14050 npsn
Observations 314733 314733 300535
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.299 0.064 / 0.314 0.074 / 0.312

Table 1 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SD tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.30, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SD disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.84 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 8.29 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 16.62. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.30 menjadi 0.26 yang berarti sebesar 4 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Numerasi

Table 2:

Numerasi SD 2021

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 34.42 34.30 – 34.54 <0.001 34.16 34.04 – 34.29 <0.001 27.56 26.71 – 28.41 <0.001
female 1.35 1.27 – 1.43 <0.001 1.33 1.25 – 1.41 <0.001
SES z 0.38 0.33 – 0.42 <0.001 0.39 0.35 – 0.44 <0.001
SES sch z 3.29 3.02 – 3.55 <0.001 2.39 2.10 – 2.68 <0.001
IASP2 8.73 7.63 – 9.82 <0.001
Random Effects
σ2 124.52 123.98 124.18
τ00 46.01 npsn 43.22 npsn 42.45 npsn
ICC 0.27 0.26 0.25
N 14765 npsn 14765 npsn 14050 npsn
Observations 314733 314733 300535
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.270 0.018 / 0.272 0.023 / 0.272

Table 2 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SD tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.27, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SD disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.38 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 3.29 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor numerasi sebesar 8.73. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.27 menjadi 0.25 yang berarti sebesar 2 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

SMP

Literasi

2021

Table 3:

Literasi SMP 2021

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 55.94 55.84 – 56.03 <0.001 55.37 55.25 – 55.48 <0.001 57.42 56.78 – 58.06 <0.001
female 1.19 1.07 – 1.32 <0.001 1.22 1.09 – 1.35 <0.001
SES z 1.60 1.53 – 1.68 <0.001 1.61 1.54 – 1.69 <0.001
SES sch z -0.63 -0.85 – -0.42 <0.001 -0.39 -0.62 – -0.16 0.001
IASP2 -2.71 -3.54 – -1.88 <0.001
Random Effects
σ2 162.98 160.71 160.46
τ00 5.77 npsn 5.56 npsn 5.34 npsn
ICC 0.03 0.03 0.03
N 4999 npsn 4999 npsn 4610 npsn
Observations 158654 158654 147263
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.034 0.015 / 0.048 0.016 / 0.047

Table 3 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMP tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.03, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMP disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 1.60 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan menurunkan 0.63 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor literasi sebesar 2.71. Selain itu tidak terdapat perubahan ICC dari model 1, model 2, maupun model 3. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 4:

Literasi SMP 2022

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 60.91 60.63 – 61.19 <0.001 57.70 57.45 – 57.95 <0.001 46.67 45.19 – 48.15 <0.001
female 4.74 4.61 – 4.87 <0.001 4.76 4.63 – 4.90 <0.001
SES z 0.38 0.31 – 0.45 <0.001 0.43 0.35 – 0.50 <0.001
SES sch z 12.07 11.55 – 12.59 <0.001 10.83 10.28 – 11.38 <0.001
IASP2 15.19 13.25 – 17.14 <0.001
Random Effects
σ2 178.80 173.25 172.72
τ00 96.63 npsn 63.66 npsn 56.70 npsn
ICC 0.35 0.27 0.25
N 4903 npsn 4903 npsn 4481 npsn
Observations 164086 164083 150972
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.351 0.137 / 0.369 0.155 / 0.363

Table 4 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMP tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.35, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMP disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.38 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 12.07 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 15.19. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.35 menjadi 0.25 yang berarti sebesar 10 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Numerasi

2021

Table 5:

Numerasi SMP 2021

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 51.40 51.30 – 51.49 <0.001 52.05 51.93 – 52.17 <0.001 55.23 54.56 – 55.89 <0.001
female -1.09 -1.23 – -0.95 <0.001 -1.08 -1.22 – -0.94 <0.001
SES z 1.46 1.38 – 1.54 <0.001 1.46 1.38 – 1.54 <0.001
SES sch z -2.02 -2.25 – -1.80 <0.001 -1.69 -1.93 – -1.45 <0.001
IASP2 -4.24 -5.11 – -3.37 <0.001
Random Effects
σ2 191.78 189.87 189.43
τ00 5.31 npsn 5.27 npsn 5.21 npsn
ICC 0.03 0.03 0.03
N 4999 npsn 4999 npsn 4610 npsn
Observations 158746 158746 147351
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.027 0.010 / 0.037 0.011 / 0.037

Table 5 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMP tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.03, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMP disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 1.46 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan menurunkan 2.02 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 4.24. Selain itu tidak terdapat perubahan ICC dari model 1, model 2, maupun model 3. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 6:

Numerasi SMP 2022

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 53.14 53.00 – 53.29 <0.001 52.23 52.10 – 52.37 <0.001 55.23 54.56 – 55.89 <0.001
female 0.88 0.79 – 0.97 <0.001 -1.08 -1.22 – -0.94 <0.001
SES z 0.15 0.10 – 0.20 <0.001 1.46 1.38 – 1.54 <0.001
SES sch z 6.25 5.97 – 6.53 <0.001 -1.69 -1.93 – -1.45 <0.001
IASP2 -4.24 -5.11 – -3.37 <0.001
Random Effects
σ2 85.77 85.59 189.43
τ00 25.10 npsn 16.44 npsn 5.21 npsn
ICC 0.23 0.16 0.03
N 4903 npsn 4903 npsn 4610 npsn
Observations 164086 164083 147351
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.226 0.078 / 0.226 0.011 / 0.037

Table 6 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMP tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.23, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMP disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.15 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 6.25 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 4.24. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.23 menjadi 0.03 yang berarti sebesar 20 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

SMA

Literasi

2021

Table 7:

Literasi SMA 2021

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 60.79 60.46 – 61.12 <0.001 59.26 58.99 – 59.54 <0.001 50.23 48.03 – 52.43 <0.001
female 2.75 2.59 – 2.90 <0.001 2.80 2.65 – 2.96 <0.001
SES z 0.76 0.68 – 0.85 <0.001 0.79 0.70 – 0.87 <0.001
SES sch z 7.09 6.59 – 7.58 <0.001 6.59 6.07 – 7.10 <0.001
IASP2 11.69 8.91 – 14.47 <0.001
Random Effects
σ2 99.58 97.49 97.54
τ00 55.72 npsn 35.08 npsn 33.11 npsn
ICC 0.36 0.26 0.25
N 2137 npsn 2137 npsn 1975 npsn
Observations 68501 68501 64145
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.359 0.138 / 0.366 0.154 / 0.368

Table 7 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMA tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.36, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMA disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.76 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 7.09 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 11.69. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.36 menjadi 0.25 yang berarti sebesar 11 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 8:

Literasi SMA 2022

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 60.85 60.39 – 61.31 <0.001 58.26 57.87 – 58.65 <0.001 43.20 40.21 – 46.19 <0.001
female 3.65 3.45 – 3.84 <0.001 3.64 3.44 – 3.84 <0.001
SES z 0.93 0.83 – 1.03 <0.001 1.00 0.90 – 1.11 <0.001
SES sch z 9.81 9.10 – 10.51 <0.001 8.57 7.83 – 9.30 <0.001
IASP2 19.73 15.93 – 23.53 <0.001
Random Effects
σ2 155.45 151.66 151.22
τ00 99.63 npsn 63.74 npsn 57.68 npsn
ICC 0.39 0.30 0.28
N 1901 npsn 1901 npsn 1735 npsn
Observations 66465 66464 61658
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.391 0.150 / 0.402 0.170 / 0.399

Table 8 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMA tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.39, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMA disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.93 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 9.81 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 19.73. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.39 menjadi 0.28 yang berarti sebesar 11 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Numerasi

2021

Table 9:

Numerasi SMA 2021

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 49.75 49.58 – 49.92 <0.001 49.56 49.41 – 49.71 <0.001 45.92 44.75 – 47.09 <0.001
female 0.26 0.15 – 0.38 <0.001 0.27 0.15 – 0.39 <0.001
SES z 0.29 0.23 – 0.36 <0.001 0.32 0.25 – 0.38 <0.001
SES sch z 3.77 3.51 – 4.03 <0.001 3.55 3.27 – 3.82 <0.001
IASP2 4.73 3.26 – 6.21 <0.001
Random Effects
σ2 55.01 54.97 55.12
τ00 13.81 npsn 8.58 npsn 8.32 npsn
ICC 0.20 0.13 0.13
N 2137 npsn 2137 npsn 1975 npsn
Observations 68501 68501 64145
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.201 0.074 / 0.199 0.080 / 0.201

Table 9 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMA tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.20, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMA disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.29 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 3.77 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 4.73. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.20 menjadi 0.13 yang berarti sebesar 7 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 10:

Numerasi SMA 2022

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 51.78 51.49 – 52.06 <0.001 51.04 50.80 – 51.27 <0.001 44.31 42.51 – 46.10 <0.001
female 0.54 0.38 – 0.69 <0.001 0.57 0.42 – 0.73 <0.001
SES z 0.69 0.61 – 0.77 <0.001 0.72 0.64 – 0.80 <0.001
SES sch z 6.65 6.24 – 7.07 <0.001 6.12 5.68 – 6.57 <0.001
IASP2 8.81 6.53 – 11.09 <0.001
Random Effects
σ2 95.17 94.71 95.22
τ00 36.52 npsn 20.57 npsn 19.35 npsn
ICC 0.28 0.18 0.17
N 1901 npsn 1901 npsn 1735 npsn
Observations 66466 66465 61659
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.277 0.124 / 0.280 0.132 / 0.279

Table 10 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMA tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.28, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMA disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.69 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 6.65 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 8.81. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.28 menjadi 0.17 yang berarti sebesar 11 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

SMK

Literasi

2021

Table 11:

Literasi SMK 2021

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 60.14 59.77 – 60.51 <0.001 59.83 59.44 – 60.23 <0.001 47.27 44.15 – 50.38 <0.001
female 2.52 2.30 – 2.73 <0.001 2.54 2.32 – 2.76 <0.001
SES z 0.34 0.22 – 0.45 <0.001 0.33 0.22 – 0.45 <0.001
SES sch z 4.04 3.12 – 4.96 <0.001 3.66 2.74 – 4.57 <0.001
IASP2 15.67 11.85 – 19.49 <0.001
Random Effects
σ2 94.81 93.53 93.46
τ00 35.38 npsn 30.83 npsn 28.83 npsn
ICC 0.27 0.25 0.24
N 1092 npsn 1092 npsn 1073 npsn
Observations 37926 37926 37383
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.272 0.036 / 0.275 0.051 / 0.275

Table 11 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMK tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.27, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMK disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.34 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 4.04 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 15.67. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.27 menjadi 0.24 yang berarti sebesar 3 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 12:

Literasi SMK 2022

  LIT LIT LIT
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 59.11 58.62 – 59.61 <0.001 58.83 58.28 – 59.37 <0.001 39.98 35.84 – 44.12 <0.001
female 2.75 2.49 – 3.01 <0.001 2.78 2.51 – 3.04 <0.001
SES z 0.38 0.26 – 0.51 <0.001 0.39 0.26 – 0.51 <0.001
SES sch z 4.86 3.59 – 6.12 <0.001 4.49 3.25 – 5.72 <0.001
IASP2 23.63 18.54 – 28.72 <0.001
Random Effects
σ2 147.42 145.81 145.66
τ00 66.64 npsn 60.80 npsn 54.82 npsn
ICC 0.31 0.29 0.27
N 1098 npsn 1098 npsn 1075 npsn
Observations 40650 40650 39924
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.311 0.029 / 0.315 0.052 / 0.311

Table 8 merupakan hasil estimasi multilevel untuk literasi pada jenjang SMK tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.31, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMK disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.38 skor literasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 4.86 skor literasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan peningkatan skor literasi sebesar 23.63. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.31 menjadi 0.27 yang berarti sebesar 4 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Numerasi

2021

Table 13:

Numerasi SMK 2021

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 49.58 49.37 – 49.78 <0.001 49.92 49.68 – 50.15 <0.001 44.38 42.54 – 46.23 <0.001
female 0.05 -0.10 – 0.21 0.512 0.06 -0.10 – 0.22 0.454
SES z 0.17 0.09 – 0.25 <0.001 0.17 0.09 – 0.25 <0.001
SES sch z 1.80 1.27 – 2.34 <0.001 1.60 1.06 – 2.14 <0.001
IASP2 6.89 4.63 – 9.15 <0.001
Random Effects
σ2 50.42 50.40 50.47
τ00 10.34 npsn 9.72 npsn 9.39 npsn
ICC 0.17 0.16 0.16
N 1092 npsn 1092 npsn 1073 npsn
Observations 37926 37926 37383
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.170 0.009 / 0.170 0.016 / 0.170

Table 13 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMK tahun 2021. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.17, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMK disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.17 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 1.80 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 15.67. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.17 menjadi 0.16 yang berarti sebesar 1 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

2022

Table 14:

Numerasi SMK 2022

  NUM NUM NUM
Predictors Estimates CI p Estimates CI p Estimates CI p
(Intercept) 50.66 50.38 – 50.94 <0.001 51.07 50.76 – 51.39 <0.001 40.57 38.21 – 42.93 <0.001
female 0.44 0.24 – 0.64 <0.001 0.45 0.25 – 0.65 <0.001
SES z 0.30 0.21 – 0.40 <0.001 0.30 0.21 – 0.40 <0.001
SES sch z 3.10 2.38 – 3.82 <0.001 2.89 2.19 – 3.60 <0.001
IASP2 13.16 10.26 – 16.06 <0.001
Random Effects
σ2 86.54 86.44 86.46
τ00 20.08 npsn 18.22 npsn 16.37 npsn
ICC 0.19 0.17 0.16
N 1098 npsn 1098 npsn 1075 npsn
Observations 40650 40650 39924
Marginal R2 / Conditional R2 0.000 / 0.188 0.017 / 0.188 0.031 / 0.185

Table 14 merupakan hasil estimasi multilevel untuk numerasi pada jenjang SMK tahun 2022. Model 1 adalah model null yang menghasilkan ICC sebesar 0.19, yang berarti bahwa perbedaan skor literasi pada jenjang SMK disebabkan karena perbedaan pada level 2 atau level sekolah. Selanjutnya pada Model 2, indeks SES individu dan rata-rata SES di tingkat sekolah dimasukkan dalam model. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi individu akan meningkatkan 0.30 skor numerasi, sedangkan peningkatan 1 standar deviasi pada status sosial ekonomi sekolah akan meningkatkan 3.10 skor numerasi. Model 3 memasukkan indeks kemudahan akses atau IASP. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan 1 poin indeks IASP berhubungan dengan penurunan skor numerasi sebesar 13.16. Selain itu bahwa terdapat perubahan ICC dari 0.19 menjadi 0.16 yang berarti sebesar 3 persen faktor kontekstual dapat dijelaskan oleh status sosial ekonomi pada tingkat sekolah dan IASP. Ditinjau dari variabel gender, siswa perempuan memiliki skor literasi lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

ICC

jenjang m0_lit m1_lit m0_num m1_num m2_num
2021
SD 0.30 0.27 0.27 0.26 0.25
SMP 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03
SMA 0.36 0.26 0.20 0.13 0.13
SMK 0.27 0.25 0.17 0.16 0.16
2022
SMP 0.35 0.27 0.23 0.16 0.15
SMA 0.39 0.30 0.28 0.18 0.17
SMK 0.31 0.29 0.19 0.17 0.16

Daftar ICC Variabel Rapor

Daftar Pustaka

Bates, Douglas, Martin Mächler, Ben Bolker, and Steve Walker. 2015. “Fitting Linear Mixed-Effects Models Using lme4.” Journal of Statistical Software 67 (1): 1–48. https://doi.org/10.18637/jss.v067.i01.
Coleman, James S. 1966. Equality of Educational Opportunity [Summary Report. Vol. 1. US Department of Health, Education,; Welfare, Office of Education.
Goldthorpe, John H. 2014. “The Role of Education in Intergenerational Social Mobility: Problems from Empirical Research in Sociology and Some Theoretical Pointers from Economics.” Rationality and Society 26 (3): 265–89.
Raudenbush, Stephen W, and Anthony S Bryk. 2002. Hierarchical Linear Models: Applications and Data Analysis Methods. Vol. 1. sage.
Sirin, Selcuk R. 2005. “Socioeconomic Status and Academic Achievement: A Meta-Analytic Review of Research.” Review of Educational Research 75 (3): 417–53.
van Buuren, Stef, and Karin Groothuis-Oudshoorn. 2011. mice: Multivariate Imputation by Chained Equations in r.” Journal of Statistical Software 45 (3): 1–67. https://doi.org/10.18637/jss.v045.i03.
White, Sammis B, Peter D Reynolds, M Marc Thomas, and Nance J Gitzlaff. 1993. “Socioeconomic Status and Achievement Revisited.” Urban Education 28 (3): 328–43.